“Banda Ngoceh”

Oleh Munawardi Ismail

Tapi sampai kapan kita harus terus menengadah tangan? Apakah hingga air Krueng Aceh berhenti mengalir? Atau sampai kota ini kembali ‘tenggelam’ seperti 26 Desember, tiga tahun silam. Kalau ini terus berulang bak roda pedati, tak berlebihan jika dituding aturan itu cuma ocehan. Lantas orang pun memplesetkan Banda Aceh menjadi Banda Ngoceh.
Baca selebihnya »

Pita Merah

Oleh Munawardi Ismail
Koordinator Aceh Journalist For AIDS

ACEH mulai diselubungi warna merah (bahasa Aceh mirah). Merah bukan karena kembali bersimbah darah. Tapi ini bisa lebih parah dari pengangguran yang sudah mewabah. Atau tingkat kriminalitas yang makin bertambah. Memang, merah yang satu ini secara kasat mata —mungkin— kita tak melihat dan tak pula mempercayainya. Tapi, epidemik itu sekarang menyantroni tanoh endatu.
Baca selebihnya »

Penyesalan Di Atu Lintang

INSIDEN memilukan yang ‘kembali’ menggiris wilayah tengah Aceh, amat disesali semua kalangan. Seakan-akan itu menjadi kabar buruk bagi perdamaian. Tapi semua orang berharap tidak demikian. Apalagi saat kondisi sudah mulai normal, semua berharap, khilaf itu termaafkan. Dan, kita kembali tanpa dendam. Baca selebihnya »

Halaman Berikutnya »